HIDUP SEKALI LAGI
Kali ini
aku nggak mau membahas satu topik khusus yang cukup serius seperti biasanya, konsep
tulisan kali ini mungkin lebih ke arah jurnal? You name it hehee.
Akhirnyaa
aku berkunjung kesini lagi, nggak kerasa udah 7 Tahun berlalu semenjak rumah
ini kubangun. Selamat datang kembali di rumahku, yang sempat berdebu sejak
berbulan lamanya kutinggalkan. Dulu aku menamainya semesta sebelum hujan,
karenaa suasana mendung pekat yang selalu hadir sebelum hujan, hembusan angin
yang dingin menusuk ke tulang dan semua hal yang aku takutkan, bagaimana kalau
aku kehujanan di luar sana tanpa payung atau jas hujan, kemudian meluas menjadi
bagaimana jika orang yang kusayangi basah kuyub karena hujan?, aku membuatnya
karena ingin mengumpulkan orang-orang yang juga sama khawatirnya denganku perihal
keadaan semesta sebelum hujan datang. Pembaca lama mungkin sudah tahu ceritaku
yang pernah hampir mengakhiri hidup di semester akhir perkuliahan, bukan karena
sulitnya skripsi, lebih mengerikan dari itu, meski begitu aku bertahan hidup
hingga hari ini, masih bisa menuliskan semua di kamar sembari mendengarkan lagu
Season – Wave to Earth.
Hmm
aku mulai darimana yaa, mungkin menceritakan kondisiku belakangan setelah mengalami
putus cinta di usia 25 Tahun hahahaha, jadi ingat kata mas-mas di pom bensin “mulai
dari 0 ya kak”. Putus kali ini berbeda, karena mungkin prefrontal cortexku
sudah mencapai pertumbuhan optimalnya?, ntahlah, aku hanya menerka. Putusnya
kenapa?, keliatannya baik-baik aja?, dannn yap masih banyak pertanyaan yang aku
terima, mengejutkan ya seperti pusaran air yang ada di danau yang terlihat
tenang. Aku memutuskan untuk
menceritakannya, bukan untuk menyudutkan salah satu pihak, aku ingin siapapun
yang membacanya bisa mengambil makna. Jadi, aku bisa bilang kalau hubungan ini terlalu
dipaksakan sejak awal, kami berbeda, dia yang senang di ruang yang ramai seperti
kembang api di langit taman kota, sementara aku, aku adalah sunyi di bawah
bulan sebesar semangka, aku mencintai ruang yang tak terlalu banyak suara di
dalamnya, aku berteman keheningan. Keinginanku untuk memiliki hubungan yang
serius adalah awal dari perjalanan ini kumulai, aku sudah berhati-hati sebelum
membuka pintu, “im dating for married”, he said “yes, me too”. Aku percaya dan
yap dimulailah perjalanan kami sekian bulan, hanya tinggal sebulan sebelum genap
setahun kami menjalani hubungan yang kini telah kandas. Kesalahan sejak awal,
seharusnya dia tidak mengiayakanku saat itu, karena berjalannya waktu aku tidak
diyakinkan, aku kebingungan dengan sikapnya, kadang seolah ingin
memperjuangkan, kadang seolah mengikhlaskan, tak jarang aku mengemis agar dia
memperjuangkan keinginanku, bersamanya hingga akhir. Ketidakdewasaan,
kebingungan, dan mungkin banyak hal yang masih harus diperbaiki lagi di dalam
diriku, dan di dalam dirinya juga, kami masih dua manusia yang sama-sama rapuh
kala itu. Di tengah perjalanannya aku sadar kami sudah tidak sejalan,
keinginanku melepaskannya sebenarnya sudah kutuliskan di memo ponselku tiga
bulan sebelum akhirnya kami benar-benar berpisah. Aku sadar berada di dalam
kereta yang tidak pernah mengantarkanku ke tujuan yang aku inginkan kala itu,
tapi kuurungkan niatku, bukan karena mencintainya begitu dalam, aku sadar, aku
menyayangi keluarganya, yang seperti rumah kedua bagiku, disana aku menemukan
kehangatan yang jarang kujumpai sebelumnya. Aku terlalu takut mengakui kalau
kami tidak bisa bersama lagi, aku takut memulai dari awal lagi, aku selalu berfikir
kalau dia harapan terakhirku menginjak usia dewasa ini. Sampai akhirnya satu kejadian
yang kupikir sederhana tapi cukup menjawab semua pertanyaanku saat itu,
kulemparkan kata-kata tajam padanya, aku dikuasai emosi saat itu, kuakui, dia
mengakhirinya, dan aku menyetujuinya, kukirimkan pesan selamat tinggal yang cukup
panjang yang kurangkai dengan sangat baik, salam perpisahan terakhirku. Aku
juga berpamitan dengan baik pada ibunya. Kini aku sudah selesai membaca bukunya,
perlahan menutupnya kemudian mengembalikannya dengan rapi pada rak buku,
membiarkan pembaca berikutnya membawa pulang buku itu dan merawatnya dengan
baik, semoga ia yang memiliki buku itu selamanya, kuharap dia bisa bahagia di
hubungan berikutnya.
Aku
percaya, dari setiap luka ada pembelajaran di dalamnya.
Perpisahan
kali ini tidak membuat sebagian diriku ikut menghilang, aku tetap utuh seperti pertama
kali bertemu dengannya.
Aku
bersyukur, kehilangan ini justru mengantarkanku menemukan diri sendiri,
menyayangi diri sendiri lebih tulus lagi, karena terkadang aku berusaha
melindungi orang lain dengan payungku, tapi aku membiarkan diriku sendiri basah
oleh hujan.
Belakangan
aku sadar akan hal-hal sederhana yang membuatku bahagia.
Mengingat
ada Allah yang memelukku dan menarikku dari cerita yang tidak dituliskan
untukkku sekali lagi, tentu.
Kemudian.
Buku, langit, lukisan, musik, dan kertas kosong.
Ada
rasa tenang yang sulit dijelaskan, aku suka buku bahkan sejak sebelum masuk ke
taman kanak-kanak karena ayahku yang mengenalkannya.
Langit,
aku masih ingat langit 30 Desember 2025 yang penuh bintang di halaman rumah,
leherku sampai pegal karena terpana kecantikannya, tenang, luas, ah, aku
berharap suatu hari nanti bisa menyaksikan keindahan langit bersama seseorang
yang kucintai dan mencintaiku sepenuh hati, hahaha, aamiin.
Lukisan?,
ah iyaa aku baru sadar kalau seni bukan lagi coping stress buatku, lebih dari
itu aku menikmatinya, belakangan aku juga senang mencari tahu background pelukisnya,
banyak kisah tragis di dalamnya ternyata.
Musik?,
caraku menenangkan diri salah satunya dengan musik, belakangan aku sedang suka
sekali mendengar lagu dari Lany, Wave to Earth, & Olivia Dean, EITSS
satu lagi jujur aku juga menikmati lagu Tabolabale dan Tor Monitor
Ketua wkwkw aku membutuhkannya di jam kerja selepas makan siang.
Kertas
kosong?, maksudku aku kembali aktif berkarya dengan menulis belakangan, baik di
platform tik-tok juga instagram, dann akhirnya aku menyapa blog ini lagi.
Belakangan
aku juga sedang latihan mindfulness untuk mengurangi auto pilot aku sedang mencoba
colour noticing, daripada melamun di jalan saat pergi dan pulang kerja aku
memilih fokus pada warna tertentu, seru ternyata, dengan catatan kalian adalah passenger
princess sepertiku ya hahaha, aku juga sedang berusaha olahraga lagi dan
makan sehat lagi, meski masih struggle.
Intinyaaa
belakangan aku sangaat menikmati waktu dengan diriku sendiri, tidak lagi mengemis
pada Tuhan akan cinta, aku mencoba lebih tenang kali ini, ada banyak cara
mengisi tangki cinta tidak hanya lewat hubungan romantis dengan lawan jenis
saja. Meski begitu diam-diam aku tetap berharap Dia yang dituliskan untukku
sedang berjalan ke arahku, kapanpun waktunya, semoga adalah waktu terbaik dari
pencipta kami berdua, sekarang aku sedang berada di ruang tunggu, sembari
menikmati pemandangan, hanya ada aku dan diriku sendiri, kunikmati semua keindahan
ini, sampai tiba waktunya kita menikmatinya berdua, semoga saat ini kamu yang
ntah dimana bahagia dengan dirimu, aku juga sedang berusaha begitu, agar ketika
kita bertemu kita adalah dua manusia utuh yang siap berbagi kebahagiaan dengan
tenang dan dewasa, bukan lagi cinta yang melukai satu sama lain, tapi cinta
yang hangat dan siap berjalan beriringan meskipun melewati badai yang cukup
besar, sampai jumpa di waktu itu ya <3.
Sekiaan
jurnal inii, aku harapp bisa memeluk kalian juga yang sedang merayakan perpisahan,
jangan pernah takut mengakhiri dan memulai kembali, karena apa yang tidak
dituliskan untuk kita akan lepas dari genggaman juga pada akhirnya.
Semoga
semesta selalu memelukmu hangat.
With
Love,
Nisa

Komentar
Posting Komentar