Hai Kids, Aku Versi Dewasa dari Kamu!
Menyapa
dan memeluk kembali sosok kecil di dalam diri kita yang sering kita abaikan
keberadaannya
Setiap manusia dewasa pasti
memiliki sosok kecil di dalam dirinya, ia seringkali muncul di berbagai kondisi
baik ketika kita sedang marah, bahagia, kecewa dan saat merayakan perasaan
lainnya. Sosok dewasa ini biasa kita dengar atau kenal dengan istilah Inner
Child. Inner child ini seperti puzzle peeps, karena ia terbentuk dari
kepingan-kepingan peristiwa yang pernah kita alami di masa kecil kita, yang
pada akhirnya membentuk kita hari ini.
Inner child adalah hasil dari
berbagai bentuk pengasuhan yang diterapkan pada diri kita di masa kecil. Pola
pengasuhan disini bukan hanya merujuk secara khusus pada kedua orang tua, namun
juga pada lingkungan yang dekat dengan kita dan secara langsung terlibat dalam
proses pengasuhan kita, dalam hal ini termasuk keluarga, guru/tutor (baik di
sekolah, lembaga kursus, dan sejenisnya), dan orang-orang sekitar yang dekat
dengan sehari-hari kita.
Inner child sendiri ada 2 jenis peeps,
ada yang negatif dan sudah pasti ada yang positif.
Inner Child Positif
Sekumpulan pengalaman-pengalaman
baik di masa kecil yang seiring berjalannya waktu membuat seseorang bertumbuh
menjadi pribadi yang lebih stabil dalam pengelolaan emosi dan memiliki self
esteem yang baik.
Inner Child Negatif
Sekumpulan luka yang dibawa
akibat berbagai pengalaman kurang menyenangkan akibat pola pengasuhan di masa
lalu, menurut akademisi psikolog Dr. Rachmy Diana, M.A., Psikolog, beberapa
penyebab luka pengasuhan ini seperti:
1. Unwanted Child
Beberapa
orang memiliki pengalaman sebagai seorang anak yang bahkan sebelum lahir ke
dunia sudah tidak diinginkan kehadirannya, karena dianggap sebagai aib bahkan
bencana bagi sebagian orang, makhluk suci tidak berdosa ini biasanya melalui
berbagai percobaan aborsi namun gagal dan atas izin Tuhan ia tetap lahir ke
dunia. Faktanya sejak dalam kandungan, janin sudah bisa merasakan emosi, Carista
Luminare, Ph.D. di dalam bukunya yang berjudul ”Parenting Begins Before
Conception: A Guide to Preparing Body, Mind, and Spirit for You and Your Future
Child” menjelaskan bahwa janin dapat mendengar dan mengingat bahkan sebelum ia
lahir, emosi dari seorang ibu bisa dirasakan janin melalui hormon-hormon yang
dikeluarkan oleh tubuh ibu. Biasanya proses ini akan semakin terasa ketika si
anak lahir ke dunia, bahkan nggak jarang ejekan-ejekan itu akan tetap terdengar
di telinganya sampai ia dewasa. Hal ini tentu akan sangat menyakitkan dan
menjadi trauma jangka panjang bagi seseorang.
2. Bullying
Berbagai
bentuk pengalaman perundungan yang dialami seseorang baik berupa ancaman,
kekerasan fisik, dan sebagainya yang membuat seseorang berada di dalam situasi
terancam, terintimidasi dan rendah diri. Sebagai seseorang penyintas bullying
author sendiri merasakan dampak yang luar biasa peeps dari trauma
bullying dengan berbagai bentuk kekerasan fisik dan verbal yang pernah author
alami ketika berusia 9 tahun selama 6 bulan berturut-turut, perubahan karakter
yang signifikan, rasa percaya diri yang turun, bahkan butuh bertahun-tahun
untuk author kembali bisa memberanikan diri berbicara di depan banyak orang.
3. Sibling Rival
Hayoo
siapa disini yang sering dibanding-bandingin sama saudara kandungnya?. Setiap
anak terlahir dengan keunikan dan keistimewaannya, namun sayangnya adanya
standar kesuksesan tertentu di masyarakat lah yang akhirnya membuat orang tua
atau orang-orang sekitar sering membanding-bandingkan anaknya. Misalnya yang
paling umum adalah anak yang cerdas akan diukur dari nilai rapornya, kalau
nilai rapornya jelek ya kesimpulannya si anak gagal atau bahkan dicap bodoh.
“Coba kamu kayak kakak kamu nih, rajin belajar nilainya bagus nggak kayak
kamu!”.
4. Helicopter Parenting
Helicopter
parenting adalah salah satu gaya pengasuhan dimana orang tua hiperprotektif
kepada si anak, ia akan selalu berusaha membayang-bayangi si anak dalam
berbagai aspek kehidupannya, tidak membiarkan si anak mengambil keputusannya
sendiri, karena pada dasarnya ada ketakutan berlebih yang dimiliki orang tua
dalam melindungi anaknya dari berbagai ancaman. Biasanya ini akan terjadi
hingga si anak dewasa, misalnya ketika orang tua memaksakan si anak memilih
jurusan pendidikan yang sebenarnya tidak disukainya atau dalam banyak kasus
bahkan banyak orang tua yang memaksakan si anak menjalani sisa hidupnya dengan
pilihan terbaik menurutnya, tanpa peduli si anaklah yang akan menjalani setiap
keputusan yang diambilnya begitupun setiap konsekuensinya.
5. Pola asuh otoriter
Pola
asuh ini menunjukkan komunikasi satu arah orang tua, dimana orang tua menuntut
si anak untuk patuh dan taat atas setiap keputusan yang diambilnya tanpa
melibatkan si anak untuk berdiskusi, tidak membiarkan si anak memberikan
pendapatnya, memberikan hukuman-hukuman atas setiap kesalahan yang dilakukan.
Gaya otoriter ini menuntut si anak tumbuh sejalan dengan ego kedua orang
tuanya.
6. Broken Home
Perpisahan
kedua orang tua yang seringkali menimbulkan jarak dan hilangnya salah satu
tokoh yang berperan di usia emas anak, seringkali meninggalkan bekas luka yang
cukup mendalam, di usia yang seharusnya dunianya masih belajar dan bermain ia
dipaksa mengerti bahwa ia tidak lagi bisa merasakan kasih sayang keduanya di
waktu bersamaan. Pada kebanyakan kasus bahkan salah satunya baik sosok ayah
atau ibu tidak lagi menemui anak kandungnya, tak jarang juga yang ditinggalkan
keduanya dan harus tinggal bersama keluarga terdekatnya.
7. Toxic Parents
Dalam
hal ini adalah ketika yang melakukan pengasuhan adalah orang tua yang belum
selesai dengan trauma dan luka batinnya, dalam hal ini ia cenderung bersikap
kasar kepada anaknya sebagai bentuk pelampiasan dari trauma-traumanya di masa
lalu.
Peeps sebelum kalian misuh-misuh,
author mau disclaimer dulu ya, apa yang kalian temukan di atas jika ada pada
diri kalian, bukan berarti kalian harus menyalahkan seseorang yang kalian
anggap sebagai pelaku ya, terlebih jika orang itu adalah orang tua kita, yang
seharusnya kita hormati dan kita muliakan. Tujuan author menulis topik ini
karena author pengen kalian menyadari luka-luka kalian yang terpendam dan
selama ini tidak disadari atau mungkin disadari namun kalian berusaha
mengalihkan atau mengabaikannya. Hal ini lama-kelamaan bisa berbahaya karena ia
akan memenuhi alam bawah sadar kalian, dan yang paling menakutkan adalah luka
batin ini bisa kalian bawa dari generasi ke generasi. Jadi semoga dengan apa
yang author bagikan ini kita jadi punya self awareness ya peeps untuk sama-sama
memutus rantai beracun ini supaya generasi kita nanti bisa hidup lebih baik
<3
Memeluk inner child kita
Penting sekali untuk memahami
inner child kita agar kita tidak menjadi pribadi yang fragile, mudah
marah, dan sulit berempati untuk kebahagiaan orang lain. Agar kita bisa merasa
bahagia seutuhnya kudu banget nih peeps kita mampu mengelola inner child
kita dengan baik. Unspoken trauma karena kegagalan mengenali inner child kita
membuat kita kesulitan menjalani hubungan dengan banyak orang. Untuk mengatasi
hal ini kita bisa melakukan berbagai cara salah satunya adalah dengan melakukan
recalling memori masa kecil kita. Di usia 6-7 Tahun ingatan kita sedang berada
di fase emasnya, sehingga apapun yang terjadi di usia itu sangat rentan menjadi
long term memori yang menjadi bagian dari kebiasaan dan perilaku kita hari ini.
-
Coba
dengarkan lagu relaksasi, banyak referensi musik yang bisa didengarkan di platform
musik
-
Terapkan
metode pernapasan 4-7-8
-
Pejamkan
mata perlahan, bayangkan sosok kecil kita di usia 6-7 Tahun, ajak sosok kecil
kita untuk berdialog, sapa dia yang mungkin sejak lama kita abaikan, sadari
keberadaannya, perlahan coba maafkan hal-hal kurang menyenangkan yang pernah
terjadi di masa lalu.
Jika meditasi mandiri dirasa
kurang maksimal, kita bisa mencoba mendatangi konselor untuk berdiskusi
bagaimana cara terbaik untuk berdamai dengan inner child kita.
Sepanjang kehidupan dari masa
kecil hingga dewasa tentu kita mengalami berbagai pengalaman menyakitkan, ntah
luka itu berasal dari orang tua, kerabat, bahkan pasangan kita yang tidak
pernah kita sangka akan menyakiti. Namun hidup bukanlah tentang “aku adalah
korban”, tapi hidup adalah tentang bagaimana kita memaafkan dan menerima semua
luka yang telah berlalu, dari mereka yang juga manusia, yang sama seperti kita pada
akhirnya terkadang membuat kecewa. Hal yang terpenting adalah berdamai dan
melanjutkan hidup, menyadari semua peristiwa yang telah berlalulah yang
membentuk kita hari ini. Tugas kita adalah menjaga agar luka yang pernah kita
alami cukup berakhir di kita dan tidak menjadi luka berantai yang kita bawa
dari generasi ke generasi. Sudah saatnya kita menyapa sosok kecil kita,
menyadari begitu banyak luka yang belum selesai disana, peluk sosok kecil kita.
Maafkan diri kita yang pernah gagal melindunginya, maafkan semua luka dan teruslah
bertumbuh dengan baik sebagai manusia.
With <3
Author


Komentar
Posting Komentar