Overbearing Mothers: Aku disayang, tapi kok aku merasa terkekang?
Kita mungkin udah cukup familiar kan dengan istilah fatherless,
nah tapi gimana kalau yang terjadi sebaliknya, ketika peran seorang Ibu di
dalam hidup anaknya justru berlebihan, ketika kasih sayang jadi tekanan, fenomena
ini dikenal dengan istilah Overbearing Mothers. Istilah ini baru aku dengar
sebulan belakangan, penelitian berbahasa indonesia juga masih sangat jarang,
beberapa paper yang aku temuin kebanyakan dari luar negeri dan berbahasa
inggris. Tapi ini tema yang menarik banget, Kita bakal bahas tentang overbearing
ini bareng-bareng yaa, hope it helpss pembaca kesayangankuu <3
Overbearing mothers terjadi ketika kasih sayang seorang Ibu tidak lagi dicurahkan
dengan porsi yang seharusnya, kadar kasih sayangnya over, seperti yang kita
tahu apapun yang berlebihan di dunia ini pasti ada dampak negatifnya. Kasih
sayang ibu dalam istilah ini membuat anak kewalahan, karena tidak ada batasan
yang sehat, anak tidak diberikan kepercayaan untuk mengambil keputusan, singkatnya
seorang ibu jadi over controlling ke anaknya.
Ciri-ciri Overbearing mothers
Sejak kecil hingga dewasa anak tidak diberikan ruang untuk
mempertimbangkan keputusannya sendiri, semua harus atas kontrol ibu, singkatnya
kalau mau hidup aman, ikuti kata ibu
Pernah nggak ngeliat anak yang udah di usia dewasa tapi semua
masih serba disiapkan sama ibunya?, karena terlalu disediakan semuanya sama
Ibu, anak jadi nggak paham caranya jadi mandiri
Pendapat anak tidak pernah didengarkan, anak tidak diberi
ruang untuk mengutarakan pemikiran dan perasaannya
Anak sering dibuat merasa bersalah atau istilahnya Emotional
Guilt, kalimat yang sering keluar “mama cuma pengen yang terbaik kok
buat anak mama, masa kamu tega?”
Tidak membiarkan anak memiliki batasan, anak tidak dibiarkan
memiliki kehidupan pribadi, mirisnya ibu dengan overbearing ini bisa mengutak-atik
kehidupan anaknya sesuai dengan egonya
Menariknya kebanyakan overbearing mothers terbentuk
dari kurangnya kehadiran sosok suami dan ayah di dalam rumah tangga (fatherless),
jadi masih berkaitan erat ya guys sama fenomena fatherless juga.
Menurut dr. Andreas, komponen dari overbearing mothers ini
terdiri dari dominance, intrusiveness, emotional fution. Kalau dianalogikan ini
seperti tanaman yang terlalu sering disiram, dipupuk, tanaman yang harapannya
tumbuh subur justru jadi membusuk karena treatment yang over. Padahal normalnya
ada konsep Separation-Individuation dari Margaret Mahler yakni proses
dimana anak secara bertahap melepaskan diri secara psikologis dari ibunya dan
mulai mengembangkan perasaaan identitas pribadi serta menjadi individu yang
mandiri. Karena seorang anak akan memiliki kehidupannya sendiri, memiliki lingkup
pertemanan, dan kelak dia akan berkeluarga. Sejatinya, seorang anak dan ibu
adalah 2 entitas yang terpisah.
Overbearing mothers ini biasanya terjadi karena transgenerational
trauma, artinya pola luka yang diwariskan lewat cara mengasuh, bisa jadi pola
itu turun temurun dari nenek kita atau karena sosok ibu sendiri yang pernah
punya trauma di masa lalu. Sebenarnya ini lahir dari niat yang baik, beliau
ingin melindungi anaknya, tapi menjadi berlebihan tanpa disadari, apakah itu
bisa kita ubah? Jawabannya sulit ya guys karena udah terbentuk, tapi kalau
pertanyaannya kita ganti nih, bisa ga kalau trauma pengasuhan lintas generasi
ini kita putus, jawabannya 100% bisa, kita bisa memutus trauma ini untuk nggak
nurun ke anak-cucu kita nanti.
Dampak negatif dari overbearing mothers
Apa sih yang terjadi kalau anak diatur berlebihan, mulai dari
keputusan kecil dalam hidup bahkan sampai keputusan yang sifatnya krusial
seperti pasangan hidup.
Menurut dr. Andreas seorang psikiater klinis, dampaknya bisa
menumbuhkan seorang anak dengan gangguan jiwa (serem bangett coyyy T_T). Anxiety
dari anak yang tumbuh dengan overbearing bisa meningkat pesat, cemas berlebihan
yang disebabkan karena rasa amannya seolah hanya bisa didapatkan dari seorang Ibu.
Nggak Cuma itu, anak juga gagal membentuk identitas
diri, karena semua yang ia lakukan tanpa pegangan, semua berdasar kendali
seorang ibu yang berlebihan. Bisa berpotensi ke gagalnya ia meregulasi emosi sampai
gangguan bipolar.
Semua luka ini nggak kasat mata, bukan seperti luka
fisik kekerasan yang terlihat.
Sayangnya kalau luka ini nggak disadari, sewaktu-waktu ibunya
meninggalkan dunia ini, sosok anak dengan overbearing akan kehilangan arah,
atau ketika ia mengemban peran baru, sebagai seorang ayah misalnya, ia
kemungkinan besar akan kebingungan, karena terbiasa diatur dan disediakan dalam
segala hal.
Gimana sih caranya untuk mengatasi overbearing mothers, tanpa
harus sampai memutus hubungan dengan Ibu
Pertama, kita harus bisa membedakan dulu ya guys mana Ibu
yang sekadar peduli dan mana yang overbearing, untuk overbearing
biasanya ditandai dengan banyaknya kalimat “harus” dari ibu, artinya kita tidak
diberikan pilihan dan ruang untuk mempertimbangkan diri sendiri sekalipun
rasanya itu nggak realistis dan nggak sesuai kebutuhan kita sebagai individu
yang utuh.
Kedua, belajar untuk komunikasi asertif, komunikasi jenis ini
adalah jalan tengah, dimana kita belajar menyampaikan pendapat dan kebutuhan
kita dengan baik tanpa merendahkan ibu, dan penuhi janji yang kita buat, perlahan
buat ibu percaya bahwa keputusan yang kita ambil memang baik untuk diri kita
dan tidak membuat kita terluka seperti yang dikhawatirkannya.
Ketiga, buat batasan yang sehat, berani mengatakan tidak, berani
bertanggungjawab dengan keputusan, mencoba meyakinkan ibu bahwa kita bisa
bahagia dan aman dengan pilihan yang kita buat.
Kita mungkin nggak bisa mengubah Ibu dengan overbearing tapi
kita bisa banget kok memutus traumanya dengan menyadari pola pengasuhan yang
sudah terbentuk lintas generasi. Jangan marah juga ke Ibu ya kalau kalian sudah
menyadari pola ini memang ada, karena sebenarnya ini lahir dari niat baik ibu,
yang ingin melindungi anaknya, dan cara pengasuhan ini bisa jadi adalah versi
terbaik yang bisa beliau lakukan dengan segala keterbatasannya saat itu, bagaimanapun
orang tua kita baru pertama kali jadi orang tua.
Last but not least, kita mungkin tidak bisa memilih terlahir dari orang tua
yang seperti apa, tapi kita bisa memilih akan menjadi orang tua seperti apa.
With love,
Author kesayangan kalian <3

Komentar
Posting Komentar