Seni Memberi Ruang untuk Rasa Kekosongan dalam Hidup
Haiii pembaca kesayangankuu. Maaf yaa baru bisa menyapa blog berdebu ini lagi. Life gets really hard lately. I can’t even tell you detailnya seperti apa, tapi belakangan author lagi sering bolak-balik rumah sakit dan baru banget melewati fase grief karena kehilangan keluarga terdekat. Kita doa sama-sama ya, tentang semua hal yang berat yang aku dan kamu hadapi belakangan ini, yang mungkin nggak bisa diceritakan. Semoga pelan-pelan membaik. Peluk hangat.
Let’s get into this topiccc.
Bedah Lirik Teh Hijau – Tulus
Menurut aku, single terbarunya Tulus ini sangat mewakili banyak remaja jompo dan kakak-kakak yang udah memasuki late 20’s. Pasti nggak asing kan sama teman kita yang lagi face their struggle jadi atlet dadakan, entah itu running, gym, sampai mendaki gunung sebagai bentuk merayakan kehilangan yang pernah jadi sumber kebahagiaan. Anehnya, setelah melakukan semua kegiatan menyenangkan itu, kita tetap membawa pulang rasa hampa yang nggak bisa dijelaskan. Rasa hampa yang terus-terusan kita cari jawabannya lewat petualangan, yang siklusnya lagi-lagi mengantarkan kita pada kekosongan. Seolah-olah kekosongan adalah kutukan yang harus segera dicari penawarnya.
Menurut aku, makna lagu ini secara keseluruhan adalah tentang penerimaan kita atas satu bentuk emosi yang mungkin masih terasa asing buat dikasih ruang: kekosongan, hampa, hambar. Kita merasa kehilangan sesuatu yang dulu bikin kita excited. Kita lupa rasanya senang yang nyenang banget, sedih yang nyedih banget. Semua terasa datar aja.
Kenapa kita bisa merasa hampa?
Nah sekarang kita bedah dari kacamata psikologi yaa. Menurut psikologi dan neuroscience, rasa hampa (emptiness) atau lost spark bisa muncul karena banyak hal. Salah satunya memang sebagai mekanisme adaptasi otak setelah mengalami stres atau kehilangan. Bukan cuma kehilangan seseorang, tapi juga kehilangan versi diri kita yang dulu, kehilangan semangat, kehilangan mimpi, atau kehilangan spark yang pernah kita punya.
Coba deh bayangin otak kita itu kayak ponsel pintar, kalau dipakai terus-menerus buat menjalankan aplikasi berat ibarat sedih, nangis, cemas, overthinking 24/7 lama-lama baterainya tinggal 5%. Di titik itu HP bakal masuk low power mode, bukan berarti HP-nya rusak. Dia cuma lagi menghemat tenaga supaya tetap bertahan. Kurang lebih, otak juga bisa bekerja seperti itu. Setelah mengalami stres berkepanjangan atau kehilangan, sistem emosi kita bisa seperti “menurunkan volume”. Akibatnya kita nggak terlalu sedih, tapi juga nggak terlalu bahagia. Semua terasa datar.
Dalam psikologi, pengalaman seperti ini sering disebut emotional
numbing, yaitu ketika respons emosional terasa menurun pada situasi
tertentu. Ini bisa menjadi salah satu cara otak mengurangi beban saat emosi
terasa terlalu berat. Nah, menurut aku ini yang sedang disampaikan Tulus lewat
lagu Teh Hijau.
Tapi gimana kalau nggak lagi kehilangan apa-apa, kok tetap lost spark?
Nah, ini juga menarik. Lost spark nggak selalu berarti otak kita sedang
rusak atau sedang trauma. Kadang itu memang bagian dari ritme hidup. Di ilmu
saraf, ada sistem yang berkaitan dengan motivasi dan rasa “ingin” yang
dipengaruhi oleh berbagai proses di otak, termasuk neurotransmiter seperti
dopamin. Sistem ini memang nggak selalu berada di level yang sama setiap saat. Ada
periode ketika kita sangat antusias. Ada juga periode ketika semuanya terasa
biasa saja. Hal itu bisa dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari stres,
kurang tidur, kelelahan, perubahan rutinitas, sampai memang fase kehidupan yang
sedang kita jalani.
Makanya kata Tulus,
“Mungkin ini siklusnya, sudah garis jalannya.”
Menurut aku lirik ini realistis banget. Karena kita memang nggak selalu
ada di fase bersemangat dalam hidup. Dan itu nggak apa-apa. Kita nggak harus
buru-buru mencari cara untuk mengisi kekosongan. Anggap aja diri kita juga
berhak untuk jeda. Entah jeda dari rasa kehilangan, atau jeda dari rasa suntuk
karena rutinitas yang berulang.
Fokus pada apa yang masih ada di tangan kita
“Kulihat mana di kendaliku
Teh hijau ini yang di tanganku.”
Di lirik ini, menurut aku Tulus mengajak kita untuk kembali melihat apa
yang masih bisa kita kendalikan. Bukan semua masalah harus selesai hari ini. Kadang
cukup menikmati secangkir teh hijau yang ada di tangan. Di akhir bait itu juga
Tulus seperti menyiratkan bahwa kita boleh mengambil sebanyak waktu yang kita
perlukan untuk berdamai dengan segala kekacauan yang sedang ada di dalam diri. Dan
kita nggak perlu merasa bersalah untuk itu.
Kurayakan hampa ini
Pada akhirnya, menurut aku keseluruhan lagu ini mengajak kita menerima bahwa kekosongan juga bagian dari hidup. Ia bukan musuh yang harus segera disingkirkan. Ia adalah ruang transisi.
Terasa nggak nyaman?
Iya.
Tapi justru di ruang inilah otak dan hati kita pelan-pelan menyusun ulang dirinya sebelum siap menyambut hal-hal baru. Makanya bagian, “Kurayakan hampa ini.” menjadi lirik yang paling membekas buatku.
Bukan karena hampanya akhirnya hilang. Tapi karena kita berhenti menganggap kehampaan sebagai sesuatu yang harus buru-buru diperbaiki. Kadang bentuk self-compassion yang paling besar bukan memaksa diri untuk lekas pulih. Melainkan memberi izin pada diri sendiri untuk berkata, “Hari ini aku masih hampa, dan itu nggak apa-apa.” Sambil tetap menyimpan harapan kecil “Esok, esok akan lebih elok.”
Sekiaaann bedah membedah lagu Teh Hijau versi akuu . Peluk sekali lagii dari akuu buat kakak-kakakk yang lagi struggle sama quarter life crisis, lagi kehilangan spark, lagi merasa hidup hambar, atau mungkin lagi pelan-pelan belajar menerima satu fase yang nggak pernah kita minta. Gapapa yaa kalau hari ini rasanya belum baik-baik aja. Gapapa kalau hidup lagi ada di ruang kosong.
Dan semoga, seperti kata Tulus di lagu Tujuh Belas,
“Seberapa pun dewasa mengujimu, takkan lebih dari yang engkau bisa.”
With the biggest love and warmest hug,
Nisa 🤍

Komentar
Posting Komentar