Freedom from Fixed Mindset

Maybe it’s time to set yourself free


Memasuki late 20s, wajar nggak sih ngerasa makin males buat belajar hal baru? Excitement-nya udah nggak sebesar dulu, energi juga rasanya makin menurun. Apakah ini pertanda kalau kemampuan otak kita semakin menurun seiring bertambahnya usia?

Pernah nggak kamu dengar istilah fixed mindset?, Kalau belum, sini aku kasih gambaran sederhananya. Ketika ada tantangan baru, kamu berpikir, “Aku nggak bisa,” bahkan sebelum benar-benar mencoba. Kalaupun kamu sudah mencoba sekali kemudian gagal, kegagalan itu justru memperkuat keyakinanmu dari awal:

“Tuh kan, aku emang nggak bisa.”

Atau pernah nggak kamu berada di posisi ketika diajak berdiskusi sama rekan atau kerabat tentang perilaku kamu yang sebenarnya masih bisa diperbaiki, tapi respons kamu justru:

“Ya aku emang gini orangnya.”

Ini adalah salah satu gambaran dari fixed mindset yang sebenarnya mudah kita temui, bahkan mungkin kita lakukan sehari-hari tanpa kita sadari.

Padahal menariknya, dalam neuroscience, otak kita ternyata punya kemampuan untuk berubah dan beradaptasi melalui pengalaman dan pembelajaran. Kemampuan ini disebut dengan neuroplasticity. Menurut Larasati dan Nurdian dalam penelitian mereka tentang Konsep Neuroplasticity, Neurobehaviour, Neuroscience dalam Kehidupan, neuroplasticity diartikan sebagai kemampuan otak untuk berubah, melakukan remodeling, dan reorganisasi sebagai respons terhadap situasi baru.

Nah, kalau memang otak kita sebenarnya punya kemampuan untuk terus berubah dan beradaptasi, terus kenapa keyakinan tentang kemampuan diri sendiri justru bisa memengaruhi cara kita merespons tantangan dan hal-hal baru, yang akhirnya membuat kita merasa malas untuk mengeksplorasi diri di usia dewasa ini?

Simply karena kita meyakini bahwa, “Aku sudah tua. Udah bukan waktunya lagi belajar. Belajar mah dulu waktu sekolah.”

This is the kind of thinking that reflects a fixed mindset.

Keyakinan seperti ini akhirnya bisa memengaruhi bagaimana kita merespons hal-hal baru. Ketika kita sudah percaya bahwa belajar bukan lagi bagian dari kehidupan kita, kita jadi lebih malas mencoba, lebih cepat merasa “nggak bisa”, dan akhirnya memilih untuk nggak mengeksplorasi diri lebih jauh. Dan yang menarik, keyakinan yang awalnya cuma ada di kepala, perlahan bisa kita realisasikan lewat perilaku kita sendiri.

Hmm tapi ada nggak sih cara supaya kita nggak terus-terusan terjebak dalam siklus fixed mindset?

Tenanggg, pembaca kesayanganku, ada kok. Salah satunya adalah growth mindset.

Kalau fixed mindset melihat kemampuan sebagai sesuatu yang relatif tetap, growth mindset melihat kemampuan sebagai sesuatu yang masih dapat dikembangkan. Orang dengan fixed mindset cenderung melihat bakat, kecerdasan, atau kemampuan yang dimilikinya sebagai sesuatu yang sulit bahkan tidak bisa diubah. Akibatnya, ketika dihadapkan dengan tantangan, respons yang muncul adalah “Aku nggak bisa.” Begitupun ketika menghadapi kegagalan, respon yang muncul adalah “Aku memang nggak mampu.”

Karena tantangan dan kegagalan dapat dipersepsikan sebagai ancaman terhadap kemampuan diri, seseorang bisa menjadi lebih mudah menghindari tantangan atau menyerah. Menariknya, penelitian yang dibahas dalam jurnal Exploring the Link Between Mindset and Neuroscience menunjukkan bahwa mindset juga berkaitan dengan bagaimana seseorang memproses kesalahan. Salah satunya, penelitian Moser dan rekan-rekannya menemukan bahwa individu dengan growth mindset menunjukkan keterlibatan yang lebih besar terhadap kesalahan dan memiliki akurasi yang lebih baik setelah melakukan kesalahan. Jadi, ketika melakukan kesalahan, perhatiannya bukan cuma tertuju ke kegagalannya, tapi fokus ke apa yang bisa dipelajari setelah gagal.

Dalam perspektif neuroscience, cara kita merespons pengalaman ini menjadi menarik karena otak sendiri memiliki kemampuan untuk beradaptasi melalui pengalaman dan pembelajaran. Jadi ketika kita mencoba sesuatu yang baru, mendapatkan feedback, melakukan kesalahan, kemudian mencoba lagi, kita memberikan pengalaman baru bagi otak untuk belajar dan beradaptasi. Dan ini juga membantu menjelaskan kenapa growth mindset sering dikaitkan dengan kemampuan untuk melihat kegagalan sebagai sesuatu yang sementara dan masih dapat diperbaiki, sehingga lebih memungkinkan munculnya adaptive coping dan resilience.

Selain itu, mindset juga berkaitan dengan respons stres, ini menjawab kenapa seseorang bisa “terjebak” dalam fixed mindset.

Ketika seseorang menganggap kemampuan dirinya sebagai sesuatu yang harus dipertahankan, kegagalan dapat terasa sebagai ancaman terhadap self-image. Pada orang yang punya fixed mindset tantangan terasa seperti ancaman, akibatnya respons stress meningkat yang berakibat pada hormon kortisol yang ikut meningkat.

Selain itu mindset juga berkaitan erat dengan cara kita meregulasi emosi. dalam hal ini bagian otak kita yang berperan dalam pemrosesan emosi dan respons terhadap stimulus yang dianggap penting/menekan adalah amygdala. Ada bagian lain yang disebut Prefrontal cortex yang membantu cognitive control dan emotional regulation. Hasil penelitian Moser dkk menyebutkan bahwa Individu dengan growth mindset menunjukkan reaktivitas amygdala yang lebih rendah terhadap stimulus emosional negatif dan aktivitas PFC yang lebih tinggi dalam tugas regulasi emosi.



Kesimpulannya:

Fixed mindset

- tantangan dipersepsikan sebagai ancaman

- emotional/stress response lebih kuat

- lebih sulit melakukan reappraisal

- cenderung menghindari atau menyerah.

 

Growth mindset

- tantangan dipersepsikan sebagai kesempatan belajar

- cognitive control lebih terlibat

- emosi lebih adaptif diregulasi

- lebih mungkin mencoba lagi.

Nah gimana? lumayan berat ya bahasan kitaa kali ini wkkww tenangg, kepusingan kalian bakal aku jawab pake beberapa tips yang bisa kalian lakuin dalam konsep neurosains untuk ngebangunin otak kalian. Beberapa tips ini aku rangkum dari Kak Ninda, seorang mahasiswa master di bidang Neuroscience.

 


1. Experience hal baru

Istilahnya, otak kita tuh perlu “dibangunin”. Cara membangunkannya bisa sesederhana mencoba sesuatu yang baru. Misalnya, dengarkan satu topik baru lewat podcast di pagi hari sambil bersiap pergi ke kantor, mencoba travelling ke tempat yang belum pernah kita datangi, belajar skill baru, atau melakukan berbagai hal yang memberikan kita pengalaman baru. Karena kadang yang kita butuhin bukan sesuatu yang besar tapi yang beda dari biasanya,

 



2. Mengulang kebiasaan baru

Kalau kita ingin membangun kebiasaan baru, jangan berhenti hanya karena belum langsung terasa nyaman. Pengulangan membantu memperkuat pola yang terlibat dalam suatu kebiasaan. Jadi kalau ada kebiasaan baik yang ingin kita bangun, konsistensi menjadi penting. Nggak harus langsung sempurna. Yang penting, diulang.

 



3. Bergerak

Olahraga dan aktivitas fisik juga menjadi salah satu hal yang bisa kita lakukan untuk mendukung kesehatan dan fungsi otak. Jadi jangan cuma “melatih otak” dengan belajar. Ajak tubuh kamu buat gerak juga.




4. Tidur yang cukup

Belajar bukan cuma tentang apa yang kita lakukan ketika bangun. Tidur juga memiliki peran penting dalam proses pembelajaran dan konsolidasi memori. Jadi sekeras apa pun kita berusaha di siang hari, otak tetap membutuhkan waktu untuk beristirahat. Jangan bangga kalau kamu produktif tapi tidur kamu masih berantakan.

 

 


5. Kasih asupan otak yang baik

Ini nggak cuma soal makanan, tapi juga soal informasi apa yang setiap hari kita konsumsi. Kurangi doom scrolling sebisa mungkin. Mulai coba baca buku, dengerin podcast, atau konsumsi konten-konten yang memperluas cara pandang dan wawasan kita. Karena kalau setiap hari yang kita masukkan ke kepala cuma hal yang sama, jangan heran kalau cara kita melihat dunia juga terasa itu-itu aja.

 

Jadi gimana? udah kejawab belum?

Kalau ternyata otak punya kapasitas untuk terus berubah dan beradaptasi, jangan-jangan keyakinan kita tentang kemampuan diri sendiri yang selama ini justru menjadi salah satu penghambat kita untuk mengaktualisasikan diri. Mungkin kita memang bertambah usia. Mungkin energi kita nggak lagi sebesar waktu masih sekolah. Mungkin kita juga punya keterbatasan yang berbeda dibanding dulu. Tapi bertambah usia bukan berarti berhenti belajar. Jadi kalau hari ini kamu merasa: “Kayaknya aku udah terlalu tua buat mulai.” Coba ubah sedikit keyakinannya jadi: “coba dulu deh, lagian aku belum pernah nyoba hal ini sebelumnya.” Karena percaya deh, kadang kita cuma butuh mulai dulu aja. Sayang kan kalo ternyata otak kita punya kemampuan sebesar itu tapi justru keyakinan kita atas kemampuan yang kita punya jadi ngebuat kita berhenti bertumbuh.  

 

With <3

Nisa


Buat kamu yang tertarik mendalami hubungan antara mindset dan neuroscience, beberapa sumber yang aku gunakan dalam tulisan ini:

* Meylani, R. (2024). Exploring the Link Between Mindset and Neuroscience: Implications for Personal Development and Cognitive Functioning. IJRAR, 11(1), 748–764.

* Larasati, S., & Nurdian, Y. Konsep Neuroplasticity, Neurobehaviour, Neuroscience dalam Kehidupan.

Karena tulisan ini merupakan rangkuman dan interpretasi dari beberapa literatur, aku sangat menyarankan untuk membaca sumber aslinya jika ingin memahami pembahasannya lebih mendalam <3

Komentar

Postingan Populer